Senin, 06 September 2010

Saat keturunan tak kunjung datang

Kita bahas ini dengan menggunakan akal fikiran dan perasaan. Untuk urusan agama, bisa dikesampingkan karena tidak seberapa mengekang dalam hal ini.

Lama tidak di anugerahi keturunan, suatu yang mengecewakan memang dalam menjalani bahtera rumah tangga. Kesedihan, kerapuhan, ketidak semangatan, semua menghampiri. Kadang sakit hati ikut menghantam hati saat datang pertanyaan, " sudah berapa anaknya jeng??" Bagi anda yang mengalaminya, kami sangat mengerti perasaan anda. Sungguh tidak nyaman bagi hidup kita.

Uuummm... Bila kita bijaksana dalam menyikapi hikmah yang tersembunyi di dalam takdir itu, mungkin dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah. Karena Allah tidak menciptakan suatu makhluk dengan kesempurnaan sejati. Namun tidak semua kekurangan itu di sudutkan pada satu objek saja. Setiap manusia diberikan kelebihan dan kekurangan yang berbeda beda. Bila kita mendapatkan kekurangan yang tidak lazim dalam hidup, janganlah dijadikan suatu alasan untuk melepaskan keimanan dan ketakwaan kita tersebut.

Dalam suatu kasus rumah tangga yang belum diberi keturunan, ada kalanya salah satu pihak yang menginginkan perpisahan. baik itu sang istri, maupun sang suami. Itu tergantung dari sumber masalah yang datang. Bila suami yang tidak dapat memberikan keturunan, maka sang istri menginginkan perpisahan, begitupun sebaliknya. Dan ada kalanya pihak ketiga yang berhak pun ikut campur dalam permasalahan ini.

Ketahuilah, sungguh tidak adil bagi suatu pihak yang sudah terbunuh karakternya dengan masalah ini untuk mendapatkan rasa pedih lagi dari perpisahan yang akan terjadi. Dapat dikatakan kejam, karena tidak dapat menerima pasangan yang sudah dipilih dengan apa adanya. Untuk apa dilaksanakan pernikahan yang amat sangat sakral dalam hidup, jika tidak dapat menjaga perasaan pasangan yang sudah tersakiti dengan hal hal yang memang tidak diketahui sebelumnya.

Menurut saya, alangkah sangat mulianya seseorang, bila dapat membahagiakan seseorang yang telah dicintainya dan dihalalkannya.

Di sisi lain, keinginan memiliki keturunan yang sangat menggebu gebu pun selalu merasuk hati dan fikiran. Sang fertil selalu berkeinginan bagaimana cara saya mempunyai anak kandung... hhuuufffhhh... memang sulit untuk diterima. Tapi yakinlah dengan cinta anda yang dulu pernah begitu dalam dengan pasangan infertil anda, anda dapat menerima kekurangan hidup itu dengan bijak.

Saya menulis ini untuk sebuah janji kesetiaan, Kepada laki2 fertil, Betapa beruntungnya anda jika anda dapat menjaga perasaan dan membahagiakan istri infertil anda dengan menerima dia dengan hati yang ikhlas. Buang jauh jauh rasa ingin berpaling. Yakinlah Allah akan membahagiakan anda dengan cara lain.

Jika anda berkilah dengan alasan istri rasulpun banyak, hhhmmm menurut saya anda hanya seorang pengecut. Bukan berarti Rasul pengecut, tapi Rasul punya alasan alasan yang dapat di benarkan dan dimengerti UNTUK SAAT ITU.

Begitupun untuk istri fertil yang bersuami infertil.

Maaf, bukan saya terlalu pintar dengan urusan pernikahan. Tetaapi sangat paham dengan rasanya perpisahan.

0 komentar:

Posting Komentar